Thursday, October 21, 2010

Manusia Beradab Berkata

Manusia beradab berkata: Aku adalah diri, Aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari Aku adalah yang lain—berada di luar, di bawah, tak terlihat, bawahan. Aku memiliki, Aku menggunakan, Aku mengeksplorasi, Aku mengeksploitasi, Aku mengontrol. Apa yang kulakukan adalah penting. Apa yang Aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada. Aku adalah Aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang harus digunakan sesuai dengan kemahuanku.

Tuesday, October 19, 2010

Aturan Hukum

Perlindungan yang diberikan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sekarang sama sekali tidak cukup. aturan dan hukum yang adil dewasa ini diberhalakan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingan sendiri. ianya sama sekali tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan dan ketidakadilan, hal ini hanya mencipta spesialisasi baru, dimana potensi dan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh komuniti akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau peguam. masyarakat yang miskin, lemah dan tidak berdaya adalah kelompok yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. di bawah kondisi demikian, potensi diri dan kekuatan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat akan disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan kewangan untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas. mempertahankan keadilan dalam masyarakat melalui kekuatan dan pemaksaan kawalan oleh hukum tidak akan pernah berhasil. beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. apa yang kita mahukan adalah meninggalkan demokrasi representatif untuk sebuah demokrasi partisipatif sepenuhnya.

Kapitalisasi Pendidikan


Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.

ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.

bagaimana tidak ? kawan-kawan dapat melihat kondisi pada saat ini, yang bersekolah hanya mereka yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.

ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang kelas. sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?

aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutin formaliti kemalasan. memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu. tetapi penting diingat ! jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktiviti yang “salah”, adalah mimpi di siang hari melahirkan individu-individu berkualiti unggul. akhirnya, para pelajar hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri erti sebuah proses.

tidak mustahil, lulusan ruang kelas ini akan berpenyakit mental bahkan cenderung ke arah penyakit moral. di kemudian hari mereka enggan berberfikir dan berusaha. pragmatisme sempit akan melekat pada setiap individu dengan menidak adakan nilai-nilai murni yang dianugerahi di dalam diri. korupsi adalah salah satu contoh sederhana.

hal-hal beginilah yang dimahukan oleh penganut agama kapitalisme ini. agenda busuk mereka ini akan menjahanam dan menjadikan sebuah masyarakat robot.

Monday, October 18, 2010

Volcanology? Volcanologist?

jawapan dari lebai wiki :

a person who studies the formation of volcanoes, and their current and historic eruptions.

jawapan dari aku :

konspirasihartawanuntukmenyusahkanorang.negarainimemangsangatdikenalitapimasihbanyakyangperlu diblablabladanblakeranablablabladanblamasihadayangmasihbelumdirungkaikandandihalanguntukmerungkaikannya.

-sumber dari mimpi seksual aku dengan ahli volcanology semalam-

Sunday, October 17, 2010

Sebuah Filem Dokumentari "Indonesia Bukan Negara Islam"




Filem dokumentari pendek karya jason iskandar ini telah memenangi beberapa award antaranya Official Selection '3 Cities Film Festival 2010', Official Selection 'Purbalingga Film Festival 2009, Film Dokumenter Terbaik Kategori Pelajar 'Festival Film Dokumenter 2009', Film Dokumenter Terbaik 'Tawuran! Festival Film Pendek Pelajar 2009.

Filem dokumentari ini adalah tentang 2 orang siswa muslim yang bersekolah di sebuah sekolah katholik. mereka mengemukakan dan menghuraikan tentang indonesia dan islam sebagai agama majoriti. dimana ianya divisualisasikan dalam bentuk foto hitam putih.

Filem ini telah menerima pelbagai tentangan dan kritikan dari pelbagai pihak, dimana mereka-mereka yang mengkritik ini berfikiran sempit dan terlalu ektremis terhadap agama.

Friday, October 15, 2010

Bukan Ramalan


Bila hambatan-hambatan teknikal, pengurusan dan mental sudah terkikis merata di seluruh muka bumi, maka komunikasi idea di antara tiap-tiap sudut dunia ini akan berjalan lancar. setiap perkembangan idea yang dicetuskan di suatu sudut dunia akan diketahui waktu itu juga, di sudut-sudut lain yang jauh. pada waktu itulah aliran-aliran akan terancam kewujudannya, kerana serangan dan kritikan yang tidak pernah berhenti akan menggoncangkan seluruh sendi-sendinya. pada waktunya aliran-aliran dalam faham kemanusiaan akan terhapus sebagaimana terjadi beratus tahun sebelumnya pada faham kealaman yang paling pertama sekali menjadi ilmu kealaman. komunikasi yang ketat membuat orang-orang genius tidak sempat membuat aliran, kelompok, mazhab atau madrasah. ulama-ulama tidak sempat mengumpulkan santri-santrinya, idealis-idealis dan politikus besar tidak sempat menyusun pengikut-pengikutnya dan para nabi tidak sempat lagi membangun sebuah umat. komunikasi idea menghancurkan bangunan-bangunan kelompok yang telah ada dan meniup habis benih-benih madrasah yang mahu dikembangkan. orang tidak merasa aman lagi hidup dalam suatu faham kemanusiaan. satu-satunya pegangan orang hanyalah ilmu pengetahuan dimana "gangguan keamanan" tidak perlu lagi dikhuatiri kerana "ketidak-amanan" adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, dimana perubahan sikap atau pendapat bukanlah kekafiran, tetapi kemajuan. akan terjadikah ini? entahlah, saya bukan peramal.

-Ahmad Wahib-

Aku Bukan ALIF

Aku bukan karl marx, aku bukan friedrich engels, aku bukan benito mussolini, aku bukan mao zedong, aku bukan vladimir lenin, aku bukan soekarno, aku bukan hishamuddin rais, aku bukan friedrich august hayek, aku bukan lai te, aku bukan al tantuya, aku bukan john lennon dan bukan pula yang lain-lain.

Bahkan, aku bukan alif, aku adalah me-alif. aku mencari dan terus menerus mencari. menuju dan menjadi alif. ya, aku bukan aku, aku adalah yang terus menerus berproses menjadi aku. aku adalah aku.

pada saat sakratul maut!!.

Thursday, October 14, 2010

Tuhan Bukanlah Daerah Terlarang Bagi Pemikiran


Sebahagian orang meminta saya berfikir mengikut batas-batas tauhid, sebagai rumusan kesejagatan ajaran islam. pelik, mengapa berfikir perlu dibatasi. apakah tuhan itu takut terhadap akal yang diciptakan oleh tuhan itu sendiri?. saya percaya kepada tuhan, tapi tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. tuhan ada bukan untuk difikirkan "adanya". tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan, tapi menolak berfikir secara bebas bererti menghina rasional kewujudan tuhan. dia menghina tuhan kerana kepercayaannya hanya sekadar kepura-puraan yang tersembunyi.

Saturday, October 9, 2010

Kalimat-Kalimat Dalam Al-Quran Berasal Dari Siapa?

Apakah kalimat-kalimat dalam al-quran itu memang asli dari tuhan atau berasal dari nabi muhammad sendiri(dengan berdasarkan wahyu berupa "inspirasi sedar") yang diterima dari tuhan?.

Kalau yang pertama terjadi, maka proses "ideation" akan sukar untuk dibenarkan, kata-kata tuhan itu mesti tertuju pada seluruh ruang dan waktu, baik harfiyah mahupun maknawi!!

-sekadar menulis, di atas nama kebebasan berfikir-

Sunday, October 3, 2010

Si Penjahat


Seorang pemuda bertubuh kekar, namun lemah oleh rasa lapar, duduk terkulai di pinggir jalan, berwajah lesu dan menadahkan tangan kepada semua orang yang lalu lalang, minta sedekah sambil mengulang lagu duka cerita hidupnya yang kalah, kisah derita kelaparan dan kehinaan.

kala malam tiba, bibir dan lidahnya pedih kekeringan, sedangkan tangan masih sehampa perut yang melilit keroncongan.

dibenahinya diri, lalu pergi ke luar kota, kemudian duduk di bawah pohon, tak kuasa menahan lelehnya air mata, lalu dibukakan mata yang penuh tanya ke arah syurga, sementara perut mendera, sambil berkata "oh tuhan, aku telah pergi kepada orang kaya meminta kerja, tetapi dia memalingkan muka, melihat penampilanku yang papa, aku telah mengetuk pintu sebuah rumah sekolah, namun tiada mendapatkan berkah, kerana tiba dengan hampa tangan, segala macam pencarian nafkah telah kuupayakan, namun tiada satu pun yang aku dapat. dalam kebingungan aku telah memaksa diri aku untuk meminta sedekah, tetapi ditolak oleh umat-mu para penyembah, malah mereka memandang diriku sambil menista." "sebenarnya dia kuat, tapi pemalas, tak sepatutnya merengekkan belas dengan meminta sedekah."

"oh tuhan, sudahkah menjadi kehendak-mu, menyebabkan ibu ku melahirkan aku dan kini bumi sendiri menyerahkanku kembali kepada-mu, sebelum sampai waktu?."

lalu wajahnya berubah tiba-tiba. dia bangkit berdiri dengan mata berbinar berapi-api. dibuatnya tongkat berat dari dahan pohon besar, diacungkannya ke arah kota sambil berteriak kasar, "sekuat tenaga aku telah menjerit meminta roti, tetap kau menolakku dengan berlagak buta tuli, kini aku tidak meminta lagi, akan kuambil sendiri dengan kekuatan tangan besi! telah kumohon sekeping roti, dengan himbauan pada kasih hati, tetapi rasa kemanusiaanmu telah mati. baiklah, kini akan ku ambil sendiri, atas nama kejahatan!!"

berjalanlah tahun-tahun, yang mengenal pemuda-pemuda itu sebagai penyamun, pembunuh, penjahat keselamatan jiwa, dibinasakannya siapa pun yang menentangnya, dikumpulkannya harta benda dan kekayaan untuk dibuat merebut pengaruh dari pemegang kekuasaan. sekarang dia memperoleh kekuasaan dari rakan sepencarian, membangkitkan iri pada sesama pencuri, menimbulkan gentar dan ngeri pada seluruh penduduk negeri.

kekayaan dan kedudukan rampasan itu mendesak rakyat mengangkat dia sebagai wakil kota itu - cara yang menyedihkan yang dianut para kerajaan dungu. maka pencurian memperoleh pengesahan. pemerasan didukung alat kekuasaan. penindasan kaum lemah menjadi kebiasaan, dalam pada itu penonton khalayak ramai bersorak-sorai.

demikianlah sentuhan pertama ketamakan mengubah si lembut menjadi pelaku tindak kejahatan dan melahirkan pembunuh dari pecinta kedamaian, demikianlah benih awal keserakahan insan, bertumbuh menjadi raksasa dan menghemtam remuk seribu kaki pada nama kemanusiaan.